Ketika algoritma global menghapus kedaulatan laut Indonesia dari peta digital, Selat Malaka dan Selat Sunda berubah menjadi medan perang tak kasatmata. Armada tanker bayangan bergerak tanpa nama, sementara draf perjanjian internasional mengancam membelah nusantara dengan pasal-pasal kolonial yang sudah dua ratus tahun terkubur.
Di tengah krisis itu, sekelompok birokrat pelabuhan menolak menyerah pada layar yang berbohong. Adnan, Pak Arief, Jay, dan Daeng Puyang melawan dengan senjata yang tidak bisa diretas: kertas, tinta, presisi administratif, dan ingatan laut yang menolak padam. Ketika salah satu dari mereka "dihapus" dari sistem tanpa suara, estafet keheningan pun dimulai.
Di balik bunker lembap, mereka menemukan lapisan negara yang tidak tercatat di database mana pun. Lapisan yang dijaga oleh empat Hantu Alun di empat penjuru ALKI I—penjaga gerbang yang memegang lempeng seng dan sumpah yang lebih tua dari republik ini sendiri. Satu membaca ombak. Satu membaca arus. Satu membaca kabut. Dan satu lagi, yang buta matanya, membaca laut dengan ujung jari.
Sebuah thriller birokrasi tentang menang yang terasa seperti kehilangan. Tentang kursi kosong yang bicara lebih keras daripada surat keputusan. Dan tentang lautan yang tidak pernah benar-benar bisa dimiliki oleh siapa pun yang tidak mau mendengarkan detaknya.
Judul: Gerbang Selatan Lempeng Krakatau
Penulis: Raden Oesman
Ukuran: 14,8x21 cm
Tebal: 296 halaman
Penerbit: CV. Anagraf Indonesia
ISBN: Sedang diproses
top of page
IDR 88,000Price
bottom of page
