Dalam perjalanan intelektual penulis, pertanyaan tentang bagaimana agama hadir dalam ruang sosial menjadi salah satu pencarian yang terus berulang. Apakah agama cukup dimaknai sebagai praktik ritual dan kesalehan personal semata, ataukah ia memiliki tanggung jawab yang lebih luas dalam membentuk kesadaran sosial dan membebaskan manusia dari berbagai bentuk ketidakadilan? Pertanyaan ini membawa penulis pada perjumpaan dengan gagasan paradigma sosial profetik, sebuah kerangka pemikiran yang memandang bahwa wahyu tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga mengandung orientasi transformasi sosial.
Paradigma sosial profetik memperlihatkan bahwa Islam, sejak awal kemunculannya, tidak pernah terlepas dari proyek kemanusiaan. Risalah kenabian bukan hanya membawa pesan teologis, tetapi juga mengandung spirit pembebasan dan pemanusiaan. Dalam perspektif ini, nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi menjadi tiga dimensi penting yang menegaskan bahwa keberagamaan tidak berhenti pada kesadaran individual, melainkan harus hadir sebagai kekuatan etis yang mendorong perubahan sosial.
Judul: Membumikan Nalar Sosial Profetik
Penulis: Khalani Aldiansyah
Ukuran: 14x21 cm
Tebal: 242 halaman
Penerbit: CV. Anagraf Indonesia
ISBN: Sedang diproses
top of page
IDRÂ 72,000Price
bottom of page
